logo3Mr Teto memang tiada duanya. Di daerah lain, mungkin anda sulit menemukan yang sama persis dengan Mr Teto. Tampilannya, warnanya, variasinya, begitu sensasional. Bakal membuat siapa saja yang melihatnya tergoda seketika. Tak heran, jika Mr. Teto kini dikerubuti banyak orang alias laku pesat. Malam itu, perjalanan kami terasa melelahkan. Udara malam yang dingin tak membuat kami berhenti untuk terus mencari. Hingga tiba lah pada suatu tempat yang kami cari-cari sejak lama. Warung soto Madura, ya itulah yang kami cari. Kerinduan akan soto Madura begitu terasa karena tidak semua warung di Jogja menyediakan menu langka tersebut.

Soto Madura di kenal dengan rasa kuahnya yang khas dan berbeda dengan soto manapun di daerah lain. Namanya mungkin tidak setenar soto lamongan, soto Makassar, atau soto-soto yang lain. Akan tetapi, di Madura, soto ini termasuk jenis kuliner daerah yang paling di gemari oleh masyarakat madura. Dengan kata lain, soto madura termasuk favorit di pulau yang diterkenal dengan sebutan pulau garam itu. Saking favoritnya, soto Madura pernah diangkat dalam sebuah tembang lagu berbahasa Madura dengan judul “soto madureh”. Sebuah kebanggaan bagi masyarakat Madura tentunya.

“Cak, pesen soto madureh duwe’,” saya langsung memesan soto dua porsi dengan menggunakan bahasa Madura kepada salah seorang penjaga warung. Satu untuk saya, dan yang satunya lagi untuk seseorang yang istimewa tentunya (katakanlah begitu).”Ekakana dinnak apa bungkos?” kata si penjaga itu yang berarti “mau dimakan disini apa dibungkus,”? “dinnak beih (disini saja),” kata saya. Sembari menunggu, kami pun mengambil tempat duduk.

Warung itu memang terasa khas Madura, selain menyediakan menu soto, sate pun tersedia dengan berbagai macam rasanya. Namun, karena sate Madura sudah terlalu banyak yang menjualnya di jalan-jalan di setiap sudut kota, saya pun tidak tertarik untuk membahasnya disini. Selain pada menunya yang khas, cat warung itu juga mencirikan warna khas Madura, warna merah putih menjadi warna variasi yang mencolok, ciri khas warna “Sakera” Madura.

Hanya, satu hal yang mengganjal pikiran saya ketika melihat nama warung yang tertera pada daftar menu. Warung soto itu bernama Mr. Teto. Timbul pertanyaan dalam benak saya, Madura kok mister? Kami pun langsung mengkonfirmasi kepada salah seorang penjaga warung. “Cak, nyama berungnga mak mister, mak benni cak Teto beih (bro, nama warungnya kok mister, kok bukan cak Teto saja)?,” tanya saya merasa agak kurang pas dengan nama tersebut karena terkesan terlalu kebarat-baratan, tidak sesuai ciri khas kedaerahan.

“Oh jrea singkaten cak, ‘Mr.’ maksodde madureh, Teto maksodde sate ben soto, cak, (Oh itu singkatan bro, ‘Mr.’ maksudnya Madura, Teto maksudnya sate dan soto),” kata penjaga warung itu. “o, ngak jrea rah (oh begitu y,),” kata saya. Tak lama, sebuah aroma masakan tercium, sepertinya soto itu sudah siap untuk dihidangkan. Benar, si penjaga warung membawa sotonya pada kami. Dengan sedikit di beri jeruk nipis, bumbu dan kecap secukupnya, Mr Teto pun “menggoyang” lidah kami yang sudah merasa lapar sejak tadi.

Sentuhan bumbu daerah pada Mr Teto memang memberikan sensasi rasa yang begitu menggoda.Begitulah Mr. Teto, bisa dikatakan hanya ada satu di Indonesia, tepatnya di Jogja, di Jl. Perintis Kemerdekaan 61A

Herman Wahyudi: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Organisasi: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-Yogyakarta) Mulai menulis sejak: 2009 Minat: Membaca dan menulis

wisata.kompasiana.com/kuliner

Translate »